Mahasiswa FT USU Ukir Prestasi Internasional Lewat Desain "Mending Through Absence"

Mahasiswa FT USU Ukir Prestasi Internasional Lewat Desain "Mending Through Absence"
Diterbitkan oleh
Bambang Riyanto, S.S., M. Si
Diterbitkan pada
Jumat, 31 Juli 2026

Medan, HUMAS USU - Viory Hizkia Hutahuruk, mahasiswa angkatan 2021, Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara (FT USU), berhasil mengukir prestasi dengan menjadi pemenang dalam kompetisi arsitektur internasional. Kompetisi ini diadakan Archcontest dengan tajuk Schrödinger’s Room, Edition #2. Kompetisi ini mempertemukan arsitek, desainer, dan seniman dari berbagai negara untuk menghadirkan gagasan inovatif mengenai ruang dan pengalaman manusia.
Dengan tajuk "Schrödinger's Room, Edition #2", peserta harus membayangkan sebuah ruang yang berada di antara kemungkinan dan paradoks, terinspirasi dari konsep fisika kuantum yang ditemukan oleh Erwin Schrödinger. Peserta ditantang merancang ruang, baik nyata maupun imajiner yang dapat menghadirkan pengalaman emosional ketika melihatnya.
Viory tidak berkompetisi seorang diri. Bersama Gisela Athaya Aglin, mahasiswa Program Studi Arsitektur FT USU, serta Yahya Ayyash dari Universitas Sebelas Maret (UNS), ia merancang sebuah karya berjudul "Mending Through Absence". Melalui karya tersebut, tim menghadirkan konsep ruang yang mengeksplorasi makna kehilangan, ingatan, dan proses pemulihan emosional melalui pendekatan arsitektur yang reflektif.
Melalui karya "Mending Through Absence", tim menawarkan interpretasi terhadap ruang sebagai media untuk merawat luka dan membangun kembali makna setelah kehilangan. https://www.archcontest.com/en/competition/winners/17
Bagi Viory, mengikuti kompetisi desain arsitektur telah menjadi bagian dari proses belajarnya. Selain mengasah kemampuan merancang, berbagai ajang tersebut juga dimanfaatkannya untuk memperluas koneksi, bertukar ide, dan mengenal perkembangan dunia arsitektur di tingkat nasional maupun internasional.
”Banyak loh yang sebenarnya yang kita bisa dapat di kompetisi tapi nggak kita dapat di kampus gitu. Networking-nya yang pertama gitu. Saya rasakan memang perbedaannya ketika punya temen-temen yang dari luar sana. Kita dapat perspektif jurusan arsitektur di sana,” jelasnya.
Menurutnya, berbagai kompetisi yang diikuti tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis dalam bidang arsitektur, tetapi juga mengembangkan berbagai soft skills seperti komunikasi, kerja sama tim, berpikir kritis dan kreatif. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan perpekstif baru mengenai desain khas dari tiap daerah.
”Kita harus riset juga gimana situasi di sekitarnya, gimana masyarakat di sekiternya, habitnya, gimana culture di sana,” paparnya.
Ketertarikan Viory terhadap dunia arsitektur berangkat dari pandangannya bahwa Indonesia menyimpan kekayaan arsitektur yang sangat beragam. Baginya, keunikan tersebut menjadi peluang untuk menghadirkan karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mencerminkan identitas budaya Indonesia.
“Apalagi di Sumatera Utara ini banyak yang bagus bisa dieksplor. Orang-orangnya unik, suku-sukunya, adatnya, tradisinya, semuanya menarik gitu untuk dibahas secara arsitektur,” jelasnya.
Perjalanan mengikuti berbagai kompetisi tidak selalu berjalan mulus. Setiap kegagalan menjadi pengalaman berharga sekaligus bahan evaluasi untuk terus berkembang dan menghasilkan karya yang lebih baik. Perbandingan dengan karya-karya pemenang membantu mengidentifikasi berbagai aspek yang masih perlu ditingkatkan. Ia berpesan bahwa proses pengembangan kemampuan tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran di bangku kuliah, tetapi juga melalui pembelajaran mandiri dengan membaca berbagai referensi, mempelajari karya-karya terbaik, serta terus mengikuti perkembangan arsitektur.